• Home
  • Posts RSS
  • Comments RSS
  • Edit

Jalan Yang Tak Kuambil


Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan,
Dan sayang aku tidak bisa menempuh keduanya
Dan sebagai pengembara, aku berdiri lama
Dan memandang ke satu jalan sejauh aku bisa
Ke mana kelokannya mengarah di balik semak belukar;

Kemudian aku memandang yang satunya, sama bagusnya,
Dan mungkin malah lebih bagus,
Karena jalan itu segar dan mengundang
Meskipun tapak yang telah melewatinya
Juga telah merundukkan rerumputannya,

Dan pagi itu keduanya sama-sama membentang
Di bawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik.
Oh, kusimpan jalan pertama untuk kali lain!
Meski tahu semua jalan berkaitan,
Aku ragu aku akan pernah kembali.

Aku akan menuturkannya sambil mendesah
Suatu saat berabad-abad mendatang;
Dua jalan bercabang di hutan, dan aku—
Aku menempuh jalan yang jarang dilalui,
Dan itu mengubah segalanya.
Road Not Taken - Robert Frost, 1916
Read More 2 Komentar | Ditulis oleh Dodi Mulyana edit post

My Sixteen Things

Rules:
1. Once you’ve been tagged, you are supposed to write a note with 16 random things, facts, habits, or goals about you.
2. At the end, choose 16 people to be tagged.
3. You have to tag the person who tagged you. (gue juga tag lebih aah)
4. If I tagged you, it’s because I want to know more about you.

Dodi adalah...
1. Pencinta Kereta
Semenjak bekerja di Wisma Antara yang berada di lingkungan segitiga emas (Gatot Subroto-Thamrin-Sudirman), saya sudah menggunakan semua jenis kendaraan yang memungkinkan untuk mencapai kantor. Angkutan umum (bis), taksi, dan kereta. Di antara ketiganya, obviously saya akan memilih kereta karna reliabilitas kereta jauh lebih baik dibanding bis. Rata-rata perjalanan menggunakan kereta hanya menghabiskan total satu jam tepat dari kos sampai kantor, sedangkan bis bisa menghabiskan waktu dua jam (sering lebih). Dan satu alasan penting lainnya, kereta bebas polusi !

2. Conservative-style
Dalam berpenampilan saya cenderung gafas (maksudnya gagap fashion), suka gak ngerti warna ini cocoknya sama warna mana, pokona mah kalo baju itu saya anggap enak dipake ya saya pake :-D. Mungkin ini penyakit gila no.61 Buta Fashion.

3. Sang Pemimpi
Dalam bekerja atau belajar, saya memakai paham sebagai a dreamer. Saya akan mencoba menggapai yang terbaik dari apa yang saya dapat lakukan. Sejak SD sampai kuliah, alhamdulillah itu bisa konsisten saya lakukan.
Banyak yang bilang saya perfeksionis, tapi saya sendiri lebih menyebutnya diri saya perfeksionis-realis (maksa). Satu contoh adalah ketika SMA saya sudah bercita-cita untuk menjadi ahli kimia karna track record saya di pelajaran itu cukup outstanding (bisa masuk Olimpiade Nasional Kimia). Tapi ketika jalan menuntun saya mendalami Teknik Telekomunikasi, saya nggak keberatan dan sangat enjoy. Karna saya menyadari toh kalau banyak jalan menuju Roma.

4. Orang yang gak tegaan
Ini turunan dari Bapak yang kalo di permukaan gemar meledek atau seakan-akan menjatuhkan orang lain dengan kata-katanya. Tapi semarah apa pun saya, saya pasti gak bakal tega untuk tidak memaafkan ketika orang tersebut minta maaf ke saya. Dan satu hal, saya gak bisa memendam kemarahan sampai berdiam di urat nadi (mendendam).
 
5. A Thinker
Jika diberi pilihan apakah saya lebih cocok di pembuat keputusan, perencana, atau pelaksana, saya lebih menempatkan diri saya sebagai A Thinker (pemikir/perencana/penganalisa). Saya suka mengamati berbagai pola dari kejadian yang saya alami, that make me a good analyst. Even my ex manager in Samsung Electronics told me that my analyst skill will become my strength.

6. Berisik yang tak beraturan
Saya paling gak suka sama sesuatu yang sifatnya berlebihan. Dan salah satunya suara yang berisik. Bisa langsung menghancurkan mood saya saat itu juga kalau ada sesuatu yang mengganggu indra pendengaran saya. Berisik yang masih dapat saya tolerir adalah musik rock hehe... Linkin Park adalah batasan musik berisik yang masih diperkenankan telinga saya.

7. Pencinta Karedok
Abi urang Sunda, jadi menjadi kewajiban untuk suka sama lalapan. Tapi lalapan yang saya suka pun lebih terbatas, misal saya gak terlalu suka daun pepaya, terong, atau pare. Lalapan favorit yang berada dalam sebuah makanan tercipta di menu Karedok. Hmm buat yang tau karedok mah HADE pisan lah rasa na. Gak bisa dikalahin sama pecel, gado-gado atau pun makanan pedes lainnya. Satu masakan istimewa buat saya.

8. Love to sing, but bad singer
Adik saya jago banget kalo nyanyi, gak sampai sekelas penyanyi sih, tapi enak didenger terutama masalah cengkok. Herannya saya koq gak bisa nyanyi yak? Tapi kalo dipaksa (atau gak dipaksa pun), misal di karaokean, saya akan dengan senang hati menyanyi hehe. Musik itu penghibur jiwa.

9. Badminton-lover
Salah satu cabang olahraga yang akan saya serius geluti sampai tua adalah badminton. Serius bukan karna saya ingin menjadi pebulutangkis di klub (udah ketuaan kali yak), tapi akan reguler bermain setiap minggunya. Saat ini sudah ada partner, Kristian dan temen latih tanding di Play Ground (lokasi GOR bulutangkis di samping Universitas Gunadarma, Margonda). Mau ngajak main? Atur aja hehe. 

10. Daya survive tinggi
Sejak kecil saya sudah dikenalkan kegagalan demi kegagalan oleh Sang Khaliq. Pun ketika keluarga saya sedang berada dalam kondisi yang memprihatinkan, saya merasakan hebatnya perjuangan bapak dan ibu untuk bisa bertahan hidup (maka bersyukurlah bagi yang diberikan rejeki berlebih). Kegagalan dan keprihatinan itu menjadikan diri saya pribadi yang gak gampang menyerah terhadap sesuatu. Gak ada kamus putus asa dalam hidup saya.

11. Hujan
Sunyi dan Hujan merupakan kombinasi kondisi yang sangat ajaib bagi saya. Sangat sering saya keluar rumah hanya demi melihat tetesan air menggenang batin saya. Dan sesaat setelah hujan adalah momen yang sangat saya tunggu-tunggu. Mencium bau tanah setelah hujan hmm... amazing! .

12. Kompetitor sejati
Saya butuh trigger dalam melakukan kehidupan sehari-hari. Semakin banyak trigger yang dapat menggerakkan saya, semakin produktif saya. Maka saya sangat menikmati mengenang dua memori terbaik yang merefleksikan status ini. Pertama, saat SMA, ketika saya yang berasal dari sekolah swasta berhasil menjadi juara umum di sebuah SMA negeri di Bekasi. Dan kedua, ketika saya berhasil menjadi yang terbaik kedua di Bimbel Nurul Fikri Jakarta, ke-23 terbaik sejawa. Persaingan nilai grade di NF itu keras banget, tapi itulah saya justru semakin terbakar jika ada sulut api.

13. Penulis puisi
Saya adalah mahasiswa Teknik pencinta Sastra. Teknik dan Sastra adalah dua hal yang bertentangan tapi membentuk harmoni yang magis. Teknik yang serba logis, dan sastra yang serba indah adalah kombinasi yang sangat pas. Kalau punya pendamping yang juga pencinta sastra, dia akan menjadi teman bicara yang sangat menyenangkan.

14. Navy blue as the most, Purple as the least
Amazingly, saya bukanlah orang yang terlalu menganggap penting sebuah warna. Bagi saya tiap warna punya arti dan peran masing-masing. Gak ada yang bisa bilang kuning lebih baik dari hijau atau emas lebih indah dari perak. Mereka membentuk sinergi alam yang dahsyat jika kita mampu mencernanya. Tapi kalau disuruh memilih warna yang paling membuat comfort, navy blue adalah jawabannya. Bagi saya warna itu ciri khas petualang. Dan warna ungu adalah warna yang paling tidak comfort karna serba nanggung. Dibilang cerah enggak dan dibilang gelap tidak juga.

15. Pencinta mata yang indah
Saya sangat menyukai bentuk mata yang indah. Hitam gelap diselubungi putih yang kontras serta dilapisi bola mata yang bulat. Pun hal lainnya mata adalah jendela hati, maka kita dapat menemukan jawaban yang tersembunyi dari seseorang dengan melihat jauh ke dalam matanya. Berandai-andai kalau suatu saat mata istri saya dapat saya pandangi timeless, will be awesome for me.

16. Profesi paling berkesan yang pernah dilakukan adalah menjadi pendidik
Ketika ditanya profesi apa yang paling berkesan sepanjang perjalanan karir saya, saya akan dengan menjawab menjadi pendidik. Saya pernah menjadi tutor Bahasa Inggris untuk guru-guru TK, dan guru di sebuah pondok pesantren di daerah Depok. Momen ketika saya berada di depan murid-murid, berhasil mencuri perhatiannya, dan membangkitkan semangat belajar mereka adalah momen terbaik dalam karir saya. Saya terharu tak terkira ketika ada beberapa anak dari ponpes yang takut masuk UI, tapi berhasil meniti karir di program Diploma UI. It’s such a dream come true for me.
Estafet My sixteen things saya lanjutkan ke Taz, Acculk, Kristian, Gendo, Hasan, Gilang, Leni, Andri, Mutiah, Ilo, Setyo, Handri, I-Ronman, Reka Puspa, Indri, Baiquni (suwun sebelumnya).
Read More 9 Komentar | Ditulis oleh Dodi Mulyana edit post

10 Heart-felt Moments

1991 : Almost-losing my beloved Mam
Periode tersulit dalam kehidupan keluarga saya terjadi ketika Bapak saya mengalami kebangkrutan (entah yang keberapa kali) dari usahanya di Senen. Hal ini menyebabkan anak-anaknya terjun langsung membantu keuangan keluarga. Pengorbanan terbesar dilakukan oleh kakak perempuan saya yang terpaksa berhenti dari SMP Negeri 5 Bekasi. Sedangkan para lelakinya berjuang menjadi pedagang asongan di perempatan Pemda Bekasi. A' Dedi yang menjual rokok dan saya sendiri memilih berjualan minuman penghangat tenggorokan para pengendara seperti es teh manis sewaktu siang dan kopi/jahe/susu ketika matahari telah terbenam.
During this time, kami sekeluarga tinggal di sebuah kontrakan. Ibu saya, yang saya panggil ema’, sedang mengandung anak ke-5 yang sebetulnya tidak direncanakan oleh orang tua saya. Kondisi rumah yang aerasinya tidak baik menyebabkan ibu sempat berhenti bernafas selama kurang lebih 5 menit. Ketika kami sekeluarga panik dan meminta bantuan tetangga, seorang Bapak waktu itu langsung menyibakkan kelambu yang membungkus tempat tidur dan meminta dibuatkan susu hangat. Ajaib, setelah berhenti bernafas 5 menit, Ibu pun kemudian batuk sambil bergumam, “Ada apa?” Damn! Saat itu saya tidak dapat menggambarkan betapa kalutnya peluang untuk kehilangan manusia yang bahkan Muhammad SAW menyebut sampai tiga kali ketika ditanya siapa orang yang paling beliau hormati.
1992 : Making my Dad cried
Jika ada momen ketika ayah saya yang biasanya sangat tegar menjadi lemah tak berdaya adalah ketika usaha beliau hancur lebur (entah karna apa). Beliau benar-benar diuji sampai suatu saat pernah menjadi seorang kuli bangunan. I’d take a hat off to you, Dad!
Di tahun ini saya merasakan arti kegagalan (pertama) saya. Saya hanya bisa bersekolah di SMP swasta yang jelas tidak ada pikirannya di benak saya. Saat pendaftaran sekolah pun, Bapak sudah pontang-panting mencari pinjaman hingga saat guru olahraga mewajibkan siswa baru berpakaian olahraga. Ketika saatnya tiba, saya memaksa Bapak untuk membelikan baju itu saat itu juga, yang tentu tidak dapat disediakan olehnya. Tekanan ekonomi yang begitu besar dan tidak pengertian yang datang dari anaknya sampai menyebabkan beliau menangis. Damn Dad! If I could turn back time, I wont EVER do that to you.
June 1996 : Seeing Ricky/Rexy got Gold Medals in Olympic
Badminton selalu menjadi olahraga yang paling saya kuasai. Ada semacam natural insting untuk men-smash, mendrive, dan selalu menyenangkan ketika kita bisa membuat lawan main kita pontang-panting mengejar shuttle cock (tentu menjengkelkan jikalau kebalikannya).
Pemain badminton kesayangan saya pun tidak terhitung, tapi kalau diharuskan memilih saya akan memilih Susi Susanti karna endurance-nya, Hendrawan karna unpredictable placement, dan still our favorite athlete now, Taufik Hidayat karna best backhand smash he has ever.
Pertandingan badminton yang ditayangkan oleh teve pun jarang yang saya lewatkan. Saya pernah menjadi saksi bisu ketangguhan seorang Susi merebut emas di Barcelona, tapi saat paling mendebarkan dan mengharukan adalah ketika ganda putra terbaik Indonesia, Ricky Subagja/Rexy Mainaky merebut emas setelah mengandaskan pasangan Malaysia, Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock. Saat ketika kita ketinggalan di set ketiga, 10-12 untuk kemudian bangkit dan memenangkan pertarungan dengan 15-12 sangat mendebarkan, mengharukan, membanggakan bagi seluruh rakyat Indonesia. Tidak heran sampai sekarang duo ganda ini masih sering menjadi ikon partnership ganda putra di Indonesia.

July 1998 : Crying as hearing nasyid Ibu (Suara Persaudaraan)
Perjalanan jenjang sekolah saya membawa saya ke suatu kampus mungkin masih menjadi kampus paling memorable bagi saya pribadi, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).
Kejadian mengharukan bagi saya (dan saya yakin hampir semua mahasiswa angkatan 1998 mengalami hal yang sama) adalah ketika Ospek. Tidak, ospek di kampus STAN sangat manusiawi dan menjunjung aspek intelektualitas calon mahasiswa. Menjeda kegiatan di pagi hari dengan sore hari, panitia memberikan dakwah islam dengan cerita-cerita islam yang akan diakhiri dengan langgam Nasyid. Saat itu nasyid lah belum populer (Raihan pun baru merecord album pertama, Puji-Pujian). Sewaktu panitia menyanyikan nasyid Ibu milik Suara Persaudaraan, semua calon mahasiswa saat itu banjir oleh air mata.
Ibarat sinar mentari
Begitulah kasih ibu
Sepanjang zaman tak akan terbalas
Teruntai begitu indahnya
Diusia yang telah senja
Kau berkenan memanggilnya
Aku rela dlaam ridhoMu
Tawakalku padaMu
Kasihilah dia disana
Di dalam kesendiriannya
Lapangkanlah alam kuburnya
Terangilah dengan cahyamu
Duhai Robbi ampunkan dia
Sejahterakan dengan nikmatmu
Yang tak pudar ditelan masa
Ijinkanlah kami meminta
Saat itu kenangan ketika Ibu hampir terenggut nyawanya kembali membayang dan satu janji saya saat itu, ingin membahagiakan beliau.
June 2000 : Making my parents cried
Pada saat saya menyelesaikan kuliah saya di Kampus Politeknik Negeri Jakarta, tidak pernah terlintas bahwa saya akan digadang-gadang sebagai Mahasiswa Terbaik Jurusan di departemen saya (Teknik Elektro). Membanggakan? Tentu saja karena saya dan Budiyono (sahabat saya) berhasil mengalahkan peringkat terbaik di dua program studi lain. Kami mendapat privelese dengan duduk di depan semua mahasiswa dan tidak harus mengantri untuk acara pengesahan oleh Rektor saat itu.
Waktu itu Ibu dan Bapak berada di selasar kanan Balairung UI dan langsung menangis melihat keberhasilan seorang anaknya menjadi salah seorang mahasiswa terbaik. Saya waktu itu tidak tau kejadian itu, tapi ketika acara selesai dan Ibu bergegas menghampiri dan menciumi saya, saya bisa melihat bekas air mata di wajahnya. Till now, it’s my greatest moment in my life.
Read More 10 Komentar | Ditulis oleh Dodi Mulyana edit post
Newer Posts Older Posts Home

Color Paper

  • Tentang Blog Ini

      Berawal dari goresan pena pengalaman paling pribadi, untuk kemudian menyadari bahwa sebuah tulisan bisa menjadi alat yang lebih tajam daripada pisau dan lebih cepat dibanding peluru. Demikian, tulisan-tulisan di blog ini pun berevolusi menjadi tulisan dalam konteks yang lebih umum.


  • ShoutMix chat widget

    Followers

    deBlogger

    • e-no
      Kantin Blauran Yang (Seharusnya) Penuh Kehangatan
      2 weeks ago
    • shandyisme
      Personal Loan Cancellation
      7 years ago
    • Ramadoni
    • Welcome to gegepoweranger.co.cc
    • I AM DITO
    • ãñÐrî ñâwáwï

    Blog Archive

    • ▼  2009 (20)
      • ▼  June (2)
        • Dan Layar pun Terkembang...
        • deBlogger – 50 Fast Facts
      • ►  May (3)
      • ►  April (5)
      • ►  March (4)
      • ►  February (3)
      • ►  January (3)
    • ►  2008 (3)
      • ►  November (1)
      • ►  May (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2007 (3)
      • ►  December (1)
      • ►  July (1)
      • ►  April (1)
    • ►  2006 (11)
      • ►  October (1)
      • ►  July (7)
      • ►  June (2)
      • ►  February (1)
    • ►  2005 (16)
      • ►  December (1)
      • ►  October (2)
      • ►  August (2)
      • ►  July (3)
      • ►  June (5)
      • ►  May (3)

    Blog Statistik






    free counters

    • Home
    • Posts RSS
    • Comments RSS
    • Edit

    © Copyright Dhodie's blog. All rights reserved.
    Designed by FTL Wordpress Themes | Bloggerized by FalconHive.com
    brought to you by Smashing Magazine

    Back to Top