• Home
  • Posts RSS
  • Comments RSS
  • Edit

The Last Day

Wow, ada ya perusahaan di luar Jakarta yang mempunyai arsitektur gedung sebagus ini

Itu adalah opini saya ketika memasuki Samsung pertama kali. Dihadang oleh satpam-satpam dengan raut muka yang tak bersahabat *karena tidak kenal* saya memasuki gedung Head Quarter Samsung untuk mengikuti Tes TOEIC penuh kekaguman. Ruangan yang tertata apik, dengan AC yang menyala maksimal, sehingga panas Cikarang yang menyengat tidak terasa. Ketakjuban saya semakin bertambah membaca beragam kegiatan education dan training yang diadakan untuk karyawannya. TOEIC Preparation, Word for Professional, Excel Training, PLC Workshop dan lain lain telah diagendakan dengan runtut oleh HRD waktu itu. Interesting place, pikir saya kala itu!

Karena jodoh itu pula lah, saya akhirnya diterima di perusahaan itu sebagai Purchasing Staff. Posisi yang kala itu saya sendiri tidak tau job descriptionnya. Atas dasar user yang humanis, tempat yang menarik, dan paket gaji yang cukup besar, saya pun menandatangani kontrak bersama dua orang teman saya, Fauzan (TM-Undip) dan Hadi (FE-Undip). Mengingat bahwa saya tidak mengalami masa menganggur, karena sehari setelah wisuda langsung medical check up dan orientasi karyawan baru, saya yakin bahwa jalan yang telah saya ambil tidak lah salah.

Menjalani pekerjaan sebagai Key Member-nya Departemen Purchasing, memberikan tantangan tersendiri bagi saya. Di tahun 2003, ada 5 orang yang sebelumnya menduduki posisi itu, Haris, Tronic, Yudha, Arif, sampai akhirnya dipegang oleh Pak Hardi, manajer saya kala itu, menunjukkan bahwa posisi itu adalah hot seat. Ketahanan kerja saya waktu itu sempat diragukan oleh GM Divisi saya, Mr. C.H. Kim, yang saya mafhumi mengingat banyaknya pekerja yang berguguran menanganinya. Tetapi itu semua tidak lah menyurutkan langkah saya, karena semakin saya diremehkan oleh orang lain, semakin tinggi pula keinginan saya to prove it!.

Dan benar lah adanya bahwa pekerjaan saya waktu itu membuat nama saya terkenal di seantero VD Division. Bukan karena key membernya, tapi karena waktu itu saya didera masalah yang berkepanjangan. Hampir selama 3 bulan pertama, saya mendapat beragam masalah (saya mengistilahkannya kepentok sana-sini), yang membuat saya harus menghabiskan waktu minimal 12 jam sehari untuk mencari solusi yang tepat atas masalah-masalah yang ada. Konflik dengan departemen lain, bahkan sampai pernah membuat orang lain menangis, harus saya lakukan karena pressure pekerjaan saya menuntut saya untuk melakukannya. Alhasil, dalam 3 bulan berikutnya saya pun sudah berhasil menstabilkan pekerjaan saya. Dan ini diakui oleh Manager saya dengan memberikan appraisal B, nilai yang sangat jarang diberikan olehnya kepada pegawai baru.

Satu tahun berjalan, saya pun mengalami apa yang disebut comfort zone. Satu kondisi di mana seseorang merasa nyaman dengan kondisi yang sebenarnya tidak dia inginkan (berat badan saya kala itu mencapai 63 Kg, peningkatan luar biasa, dari yang tadinya cuma 53 Kg). Sampai satu saat, saya berkesimpulan bahwa saya harus melakukan sesuatu yang berbeda. Dan saya pun memutuskan untuk meneruskan kuliah saya, ambil ekstensi S-1, di Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Sekali lagi, karena tantangan lah saya fight untuk ambil kuliah di sana. Kuliah di universitas swasta lain, saya fikir terlalu mudah. Sampai akhirnya, pada bulan Agustus 2005, saya pun menjalani kuliah pertama saya kala itu, Dasar Sistem Kendali oleh Pak Sugiharto.

Timbullah genderang perang dalam hati saya, apakah saya akan memprioritaskan kuliah atau kerja, karena kuliah di UI menuntut saya untuk stand by, pun demikian halnya kerja di Samsung. Absensi yang bolong di sana sini, baik di tempat kerja dan kuliah, membuat saya memutuskan bahwa saya harus pilih salah satu. Dan kuliah lah yang saya pilih karena kecintaan saya akan dunia ajar-mengajar. Selama satu semester itu pula lah saya mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan yang memungkinkan saya untuk lebih fokus ke kuliah.

Dan akhirnya, Jalan Alloh itu pun hadir tepat setelah UAS Semester 5, saya diterima di perusahaan sekuritas pertambangan, Tyco, sebagai Senior Purchasing Officer. Posisi dan kerja yang lebih baik, dan terutama lokasi yang jauh lebih dekat dengan kampus dan tempat tinggal saya, memaksa saya untuk meninggalkan Samsung. Dan itu pun terlaksana hari ini, 3 Februari 2006.
Read More 1 Comment | Ditulis oleh Dodi Mulyana edit post

Habibie: Saya Menangis Saat Mengunjungi IPTN Makassar

Mantan Presiden Prof Dr. BJ Habibie mengaku sedih dengan ditutupnya Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang telah dirintisnya sejak 1974 bersama dengan anak bangsa yang handal.

"Saya menangis saat mengunjungi IPTN, karena semua usaha yang telah dirintis anak-anak bangsa harus hancur semuanya," kenangnya saat melakukan ramah-tamah bersama masyarakat Sulsel di Makassar, Sabtu malam.

Menurut Habibie, hal terbaik yang berusaha dipersembahkan kepada bangsa melalui IPTN ini, dinilai sia-sia (mubazzir). Bahkan setelah industri ini ditutup, semua tenaga-tenaga handal anak-anak bangsa dimanfaatkan oleh negara-negara tetangga, dan Eropa.

"Apa gunanya kita memberikan yang terbaik kepada bangsa kalau bangsa itu sendiri juga yang menghancurkannya," kata Habibie seraya kecewa dengan Indoensia yang dinilai kurang mengharagai Sumber Daya Manusianya.

Saat mendirikan industri penerbangan tersebut, ia dibantu 20 orang anak bangsa yang telah dididiknya untuk membuat pesawat terbang. Setelah industri ini berkembang pesat jumlah karyawannya menjadi 44.000 orang, namun lambat laun, berkurang menjadi 1400 orang.

"Dimana anak-anak saya?" tegasnya saat mengenang kondisi yang terjadi di IPTN dimana sejumlah SDM yang telah didiknya meninggalkan Indonesia dan bekerja di negara lain, negara tempat dimana mereka dihargai hasil jerih payah, dan karya ciptanya.

Saat Indoensia dilanda badai krisis sejak Juli 1997 dimana merongrong habis sumberdaya ekonomi nasional, telah membuat kemampuan finansial industri pesawat ini susut dengan drastis.

Akibat krisis ekonomi ini membuat Indonesia harus minta bantuan pada Dana Moneter Internasional (IMF) , maka sebagai konsekuensinya adalah RI harus menerima persyaratan bahwa Pemerintah tidak boleh lagi mengucurkan dana yang terbatas ke industri penerbangan nasional ini.

"Kini kita telah kehilangan putra-putri terbaik yang mampu menghasilkan/membuat pesawat," katanya. Ramah tamah dan silaturahmi dihadiri Gubernur Sulsel Amin Syam , Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Arif Budi Sampurno dan Kapolda Saleh Saar serta sejumlah pejabat teras wilayah Sulsel. [EL, Ant]
Read More 0 Komentar | Ditulis oleh Dodi Mulyana edit post

Istimewakah Ramadhan?

Ini bukan ulang tahun saya, juga bukan tahun baru di mana kedua momen tersebut sering saya gunakan untuk me-refleksi-kan perjalanan hidup saya selama ini. Tapi, hari ini 17 Ramadhan 1425H. Yah, belum sempat saya berkata 'Ahlan wa sahlan ya Ramadhan', bulan baik ini sudah hampir sampai di penghujungnya. Amalan apa yang sudah saya lakukan? Ah tak lebih dari rutinitas hidup saya sehari-hari. Berangkat ba'da Shubuh, duduk selama 12 jam di depan komputer (break istirahat sering saya gunakan untuk mengerjakan tugas kuliah), dan pulang jam 4 sore. Ada ibadah khusus lain? NONE. Astagfirullohal'adzhim, saya belum apa-apa!

Malu rasanya dengan orang-orang yang begitu khusyu dalam sholat, tenang dalam berbicara, dan tawadhu dalam perbuatan di bulan suci ini. Meski, ini mungkin lebih intens dilakukan karena shaum, tapi setidaknya ada perbedaan dalam perilaku mereka menjalani shaum. Sementara saya? Arghhh kadang emosi masih tidak terkontrol, nafsu untuk bermalas-malas masih menggelayut entah itu di saat sahur, atau pun tatkala perut sudah diasupi berbagai macam makanan setelah berbuka.

Ya Alloh, sudah lama saya tidak merasakan rasa syahdu yang mendalam ketika mendengar adzan. Dulu, ketika di STAN, hati ini selalu terusik ketika mengacuhkan panggilan adzan. Bahkan, adzan yang paling saya tunggu-tunggu adalah adzan shubuh karena betapa menenangkannya melihat teman-teman mahasiswa lain kala itu begitu bersemangat menyambut shubuh. Saya kangen sekali dengan kondisi-kondisi saat itu!

Apakah saya harus membenci kerja? Ini adalah satu-satunya mata pencaharian saya. Tanpanya, saya tidak bisa hidup dan juga tidak bisa membantu ibu-bapak di Bandung.
Apakah saya harus membenci kuliah? Ini adalah kegiatan yang bisa membangkitkan motivasi hidup saya. Tanpanya, hidup ini tentu akan lebih kerontang.

Ahhh... Duhai Rabbi, saya masih memiliki 13 hari lagi untuk mengkhatamkan AlQuran. Berikan hamba kesempatan untuk sedikit mencicipi nikmat ibadah di bulan Engkau ini...
Amiiin.
Read More 0 Komentar | Ditulis oleh Dodi Mulyana edit post
Newer Posts Older Posts Home

Color Paper

  • Tentang Blog Ini

      Berawal dari goresan pena pengalaman paling pribadi, untuk kemudian menyadari bahwa sebuah tulisan bisa menjadi alat yang lebih tajam daripada pisau dan lebih cepat dibanding peluru. Demikian, tulisan-tulisan di blog ini pun berevolusi menjadi tulisan dalam konteks yang lebih umum.


  • ShoutMix chat widget

    Followers

    deBlogger

    • e-no
      Kantin Blauran Yang (Seharusnya) Penuh Kehangatan
      2 weeks ago
    • shandyisme
      Personal Loan Cancellation
      7 years ago
    • Ramadoni
    • Welcome to gegepoweranger.co.cc
    • I AM DITO
    • ãñÐrî ñâwáwï

    Blog Archive

    • ▼  2009 (20)
      • ▼  June (2)
        • Dan Layar pun Terkembang...
        • deBlogger – 50 Fast Facts
      • ►  May (3)
      • ►  April (5)
      • ►  March (4)
      • ►  February (3)
      • ►  January (3)
    • ►  2008 (3)
      • ►  November (1)
      • ►  May (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2007 (3)
      • ►  December (1)
      • ►  July (1)
      • ►  April (1)
    • ►  2006 (11)
      • ►  October (1)
      • ►  July (7)
      • ►  June (2)
      • ►  February (1)
    • ►  2005 (16)
      • ►  December (1)
      • ►  October (2)
      • ►  August (2)
      • ►  July (3)
      • ►  June (5)
      • ►  May (3)

    Blog Statistik






    free counters

    • Home
    • Posts RSS
    • Comments RSS
    • Edit

    © Copyright Dhodie's blog. All rights reserved.
    Designed by FTL Wordpress Themes | Bloggerized by FalconHive.com
    brought to you by Smashing Magazine

    Back to Top